Cerita pendek ini cukup menarik. Kata pak Dahlan, jangan ada yang menengok di ICU !! Nah ini saya setuju sekali. Seringkali kita ingin menjenguk saudara atau teman kita yang sedang sakit di rumah sakit, tetapi menurut saya justru kunjungan kita yang akan membuat mereka kerepotan.
-------------------------------------------------------------------------------------
Ini juga kabar gembira. Ketika adik kita Hafidz menjalani
transplantasi hati di RS Pertamedika Sentul, Direktur Utama PT Angkasa
Pura 1 (Persero), Tommy Soetomo, juga menjalani transplantasi ginjal di
RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dua-duanya sukses.
Kalau Hafidz sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, Tommy sudah
saya izinkan masuk kantor. Senin lalu. Dengan beberapa pembatasan.
Misalnya, selama sebulan ke depan masih tidak saya izinkan naik pesawat.
Biarlah Tommy menjauh dulu dari sumber-sumber infeksi. Termasuk
ketika berada di kantor pun harus dijauhkan dari sumber infeksi.
Transplantasinya sudah sukses, jangan sampai pasca transplantasinya
gagal.
Tommy adalah seorang CEO/Dirut BUMN yang tergolong hebat. Fotonya
saya pampang di dinding ruang kerja saya, bersama foto beberapa CEO BUMN
yang hebat lainnya.
Saya memang agak keras menjaga Tommy. Beberapa hari sebelum
transplantasi saya mengirim email yang harus dibaca seluruh anak-anaknya
dan keluarga dekatnya. Belakangan saya malu karena salah seorang anak
Tommy ternyata dokter. Bayangkan, begini bunyi email saya:
Pak Tommy yang baik, sudah tujuh tahun saya menjalani transplan yang lebih sulit dari Anda.
Tapi Anda lihat sendiri saya sangat sehat dan bisa menjabat Dirut PLN dengan sukses dan kemudian menjadi Menteri BUMN.
Saya minta istri Anda dan anak-anak Anda membaca email saya ini
dengan maksud agar mereka bisa menjaga Anda dari bencana yang akan Anda
hadapi.
Harus ada satu dari pihak keluarga dekat Anda yang bersikap keras
dalam menjaga Anda nanti. Agar setelah transplan nanti Anda bisa tetap
sehat.
Anda dan “polisi” Anda tadi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Operasi transplan Anda nanti boleh dibilang akan 100 persen
berhasil. Dokter sudah sangat ahli. Obat-obatan sudah sangat canggih.
Ilmu pengetahuan sudah sangat maju.
Beberapa hari menjelang operasi lakukanlah senam-senam kecil setiap
hari. Agar kondisi badan dan otot-otot Anda dalam keadaan sehat.
Jagalah, jangan makan yang aneh-aneh agar tidak sampai mengganggu
pencernaan. Makanlah makanan yg aman-aman saja. Jangan juga terkena
hujan atau terik atau debu agar tidak kena flu. Jauhi siapa pun yang
lagi flu, biar pun keluarga. Kalau ada keluarga Anda yang terkena flu
suruh menjauh/pergi.
Kegagalan transplan itu lebih banyak karena pasca transplan itu
sendiri. Transplannya sukses tapi umumnya gagal di pasca transplan.
Penyebab utama kegagalan itu adalah satu: virus! Virus! Virus! Ada
satu virus yang sangat misterius yang hanya menyerang orang yang baru
melakukan transplan. Namanya citomegalo.
5. Karena itu “polisi” Anda tadi harus galak! Galak! Galak! Jangan
SEMBRONO. Polisi Anda tadi harus memeriksa apakah ruang ICU-nya
benar-benar steril dan bersih. Kadang bagian pembersihnya kurang care!
Periksa! Jangan takut pada suster atau dokter. Kalau perlu bersihkan
lagi sendiri.
6. Jangan ada yg menengok ke ICU! Relakan Tommy sendirian di ICU.
Biar pun anak dan istri jangan menengok. Kalau terpaksa nengok harus
benar2 steril! Jangan sampai ada penyesalan.
7. Disiplin minum obat, terutama imonosupression. Harus tepat jamnya.
Dua jam sebelum minum obat jangan makan. Satu jam setelah minum obat
juga jangan makan apa pun. Tidak boleh lupa! Sampai hari ini saya masih
disiplin seperti itu. Selama tujuh tahun.
Agar tidak lupa saya selalu menaruh obat tersebut di rumah, di
kantor, di mobil, di Surabaya, di Jakarta, di Medan, dan seteruanya. Di
mana pun ada tersimpan obat saya. Jangan menganggap enteng. Itu obat
untuk sinkronisasi organ baru! Jangan sampai hang!
8. Musuh besar Anda berikutnya adalah ini: hanya dua minggu setelah
transplan nanti tiba-tiba Anda akan merasa segar, sehat, dan kuat. Anda
langsung merasa bisa melakukan apa saja. Dalam kondisi seperti itu
suasana psikologi Anda akan dalam bahaya: Anda merasa sangat sehat dan
ingin pulang! Tanpa disadari Anda akan berada dalam psikologi: “nih saya
sudah sehat, saya bukan orang sakit, saya sudah bisa kerja!”
Sikap itu sangat bahaya. Tolong Anda tetap di rumah sakit selama satu
bulan penuh! Lawanlah perasaan ingin pulang itu. Agar kerasan di rumah
sakit, bawalah komputer, laptop, HP, dan lain-lain. Bawalah pekerjaan ke
RS. Kalau perlu pasang wifi di kamar RS. Jangan pulang!
Saya dulu tiga bulan berkantor di RS.
Setelah pulang nanti tetaplah disiplin. Seperti saya. Insya-Allah Anda akan sehat sampai puluhan tahun lagi!
Salam
Dahlan Iskan
Setelah kirim email itu saya telepon salah seorang anaknya.
“Sudah baca email saya?” Tanya saya.
“Sudah. Semua keluarga,” jawab sang anak.
“Sudah mengerti isinya?”
“Sudah, Pak.”
“Anda bekerja di mana?” Tanya saya.
“Saya dokter, Pak,”
Nah, lo! Kok ngajari dokter!
Saya pun kontan minta maaf. Kok menggarami lautan.
Tapi saya tidak menyesal menulis email itu. Saya ingin Tommy selamat. BUMN tidak boleh kehilangan orang sehebat dia.
Tommy seorang pekerja keras. Bahkan sejak dia tahu mengalami gagal
ginjal tiga tahun lalu. Meski sudah harus cuci darah seminggu tiga kali,
Tommy tetap bekerja keras.
Beban kerjanya sangat berat. Termasuk saat diuber-uber penyelesaian bandara baru Ngurah Rai Bali menjelang KTT APEC yang lalu.
Dia juga berhasil membangun sistem navigasi udara di bandara
Makassar. Bahkan sistem itu dibeli untuk dikembangkan di Malaysia. Dia
juga ngebut membangun Bandara Sepinggan, Balikpapan. Akhir bulan ini
bandara megah dan modern ini sudah siap dioperasikan penuh.
Bahkan dia sudah menyiapkan rencana matang untuk bandara Semarang.
Desain dan dananya sudah disiapkan. Inginnya tahun lalu sudah mulai
dikerjakan. Namun masalah tanahnya ternyata belum clear. Bahkan biaya
tanahnya harus naik empat kali lipat sehingga semua perhitungan awalnya
tidak cocok lagi.
Kini Tommy sudah sehat kembali. Tim dokter RSCM Jakarta benar-benar
hebat. Transplantasi Tommy itu dilakukan sebuah tim dokter yang diketuai
Prof Endang Susalit, SpPD dengan anggota Dr Hilman, Dr Nur Rasyid, SpU,
dan Dr Ari Rojani. Teknik operasinya pun sudah menggunakan laparoskopi.
Saya juga berterima kasih pada jajaran manajemen Angkasa Pura 1. Mereka taat untuk tidak menengok dirut mereka selama di RSCM.
Bulan lalu benar-benar membanggakan di bidang kedokteran.
Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN
sumber: dahlaniskan.net